Selasa, 02 April 2013

MAKALAH RUANG LINGKUP SOSIOLOGI EKONOMI


SOSIOLOGI EKONOMI
A.    Pengertan dan Ruang Lingkup
Untuk mengetahui pengertian dari sosiologi ekonomi, sebaiknya kita menjabarkannya satu persatu. Untuk memberi batasan suatu kajian ilmu, biasanya para ilmuwan membuat pengertian atau definisi. Setiap ilmuwan mempunyai definisi yang berbeda-beda, seperti halnya dalam merumuskan definisi dari sosiologi. David B. Brinkerhoft dan Lynn K. White, Sosiologi merupakan studi sistematik tentang interaksi sosial manusia, lebih mengedepankan pada hubungan-hubungan dan pola-pola interaksi. Untuk bisa memahami definisi itu terlebih dahulu mengetahui batasan interaksi sosial. Interaksi sosial itu adalah suatu tindakan timbal balik antara dua orang atau lebih melalui suatu kontak dan komunikasi. Contoh, apabila ada seseorang melempar batu di sungai (disebut tindakan) dengan tujuan agar temannya yang berada di seberang sungai melihat dia berada disana, hal ini merupakan salah satu contoh dari tindakan sosial. Paul B. Horton dan Chester L. Hunt, Sosiologi merupakan ilmu pengetahuan yang mempelajari masyarakat. Masyarakat mempunyai pengertian sendiri, menurut Horton dan Hunt (1987:59) masyarakat adalah sekumpulan manusia yang secara relatif mandiri, yang hidup bersama-sama cukup lama di suatu wilayah, memiliki kebudayaan yang sama dan melakukan sebagian besar kegiatannya dalam kelompok tersebut. Sedangkan menurut Peter L.Berger, masyarakat merupakan suatu keseluruhan kompleks hubungan yang luas sifatnya, yaitu bagian-bagian yang membentuk kesatuan. Ekonomi merupakan usaha masyarakat dalam mengelola sumberdaya yang langka melalui suatu pembuatan kebijaksanaan dan pelaksanaannya. Sehingga dapat didefinisikan bahwa Sosiologi Ekonomi merupakan pendekatan sosiologis yang diterapkan pada fenomena ekonomi. Pendekatan sosiologis meliputi konsep-konsep, variabel-variabel, teori-teori, dan metode yang digunakan dalam sosiologi untuk memahami kenyataan sosial, termasuk kompleksitas aktifitas yang berkaitan dengan ekonomi, yaitu produksi, distribusi dan konsumsi. Adapun peletak dari fondasi sosiologi ekonomi adalah :
1.      Karl Marx (1818-1883), dimana karyanya adalah The Economic and Philosophical Manuscript of 1844, The Communist Manifesto (1848), dan A Contribution to The Critique of Political Economy (1859).
2.      Max Weber (1864-1920), salah satu karyanya adalah The Protestant Ethic and The Spirit of Capitalism. Bahwa ketelitian yang khusus, perhitungan dan kerja keras dari Bisnis Barat didorong oleh perkembangan etika protestan yang muncul pada abad ke-16 dan digerakkan oleh doktrin Calvinisme (doktrin tentang takdir).
3.      Emile Durkheim (1858-1917), studinya tentang The Division of Labor in Society (1893) sangat mempengaruhi perkembangan pemikiran sosiologi ekonomi. Baginya pembagian kerja merupakan sarana utama bagi penciptaan kohesi dan solidaritas dalam masyarakat modern.
4.      Joseph Schumpeter (1883-1950), karyanya adalah History of Analysis (1854) tentang bagaimana orang bertingkah laku pada waktu tertentu dan apa pengaruhnya, dan Capitalism, Socialism and Domocracy (1942) tentang kapitalisme yang mengalami keruntuhan secara perlahan dan digantikan oleh sosialisme.
5.      Karl Polanyi (1886-1964), karyanya adalah The Great Transformation (1994) tentang evolusi histories mentalitas pasar dan Trade and Market in the Early Empires (1957) tentang hubungan masyarakat dan ekonomi dalam masyarakat primitif.
6.      Talcott Parsons (1902-1979) dan Neil J. Smelser. Salah satu bukunya adalah The structure of Social Action (1937) yang mencoba mensintesis beberapa pemikiran dari Pareto, Marshal, dan Weber. Menurutnya ekonomi merupakan salah satu dari beberapa subsistem masyarakat.
Sosiologi dewasa ini mengalami perkembangan, konsekuensinya adalah adanya pembagian kerja baru antara sosiologi dan ekonomi. Hal ini dipengaruhi oleh beberapa pemikiran, mulai dari Sosiologi pilihan rasional oleh Hirschman, Sosio-Ekonomi oleh Amitai Etzioni, PSA-Ekonomi (Psikologi, Sosiologi dan Antropologi) oleh George Akerlof, Biaya Transaksi Ekonomi oleh Oliver Williamson dan Sosiologi Ekonomi baru oleh Horisson White dan murid-muridnya di Universitas Harvard.
B.     Pendekatan Sosiologis tentang Ekonomi
Titik tolak analisis ekonomi adalah individu. Pendekatan individu dalam analisis ekonomi berakar dari Ulititarianisme (yaitu mengasumsikan bahwa individu adalah makhluk yang rasional) dan ekonomi politik inggris yang dibangun di atas prinsip laissez faire, Laissez Passer (biarkan individu mengatur dirinya, karena individu tahu yang dimauinya). Aktor dalam ekonomi berarti seseorang yang mengetahui apa yang dia mau karena dia mampu berpikir rasional. Namun dalam sosiologi memandang aktor sebagai kesatuan yang dikonstruksi secara sosial, yaitu aktor dalam interaksi dan aktor dalam masyarakat. Menurut Weber tindakan ekonomi itu dapat berupa rasionol, tradisional, dan spekulatif-irrasional.
1.      Rasional, dimana individu mempertimbangkan alat yang tersedia untuk mencapai tujuan yang ada.
2.      Tradisional, dimana bersumber dari tradisi atau konvensi.
3.      Spekulatif-irrasional, yaitu tindakan yang berorientasi ekonomi yang tidak mempertimbangkan instrumen yang ada dengan tujuan yang hendak dicapai.
Tindakan rasional antara ekonomi berbeda dengan sosiologi, dalam ekonomi menganggap rasionalitas sebagai asumsi, sedangkan sosiologi menganggapnya sebagai variebel. Dalam sosiologi-ekonomi selalu memusatkan perhatiannya pada analisis sosiologis terhadap proses ekonomi, analisis hubungan dan interaksi antara ekonomi dan institusi dari masarakat, dan studi tentang perubahan institusi dan paremeter budaya yang menjadi konteks bagi landasan ekonomi dari masyarakat.
Terdapat beberapa teori tentang pendeketan, diantaranya adalah :
1.      Teori Struktural Fungsional, asumsi teori ini berupa :
a.    Setiap masyarakat terdiri dari berbagai elemen yany terstruktur secara relative mantap dan stabil.
b.    Elemen-elemen terstruktur tersebut teringrasi dengan baik.
c.    Setiap elemen dalam struktur mempunyai fungsi, yait memberikan sumbangan pada bertahannya struktur itu sebagai suatu system.
2.      Teori Struktural Konflik, asumsi dari teori ini berupa :
a.    Setiap masyarakat dalam setiap hal, tunduk pada proses perubahan (perubahan social terdapat dimana-mana).
b.    Setiap masyarakat, dalam setiap hal, memperlihatkan pertikaian dan konflik (konflik social terdapat dimana-mana).
c.    Setiap elemen dalam suatu masyarakat menyumbang dusintegrasi dan perubahan.
d.   Setiap masyarakat didasarkan pada paksaan dari beberapa anggotanya atas orang lain.
3.      Teori Interaksionisme Simbolis, asumsi teori ini berupa :
a.    Manusia adalah makhluk yang mampu menciptakan dan menggunakan symbol.
b.    Manusia menggunakan symbol untuk saling berinteraksi.
c.    Manusia berkomunikasi melalui pengambilan peran (role taking).
d.   Masyarakat terbentuk, bertahan, dan berubah berdasarkan kemampuan manusia untuk berpikir, untuk mendefinisikan, untuk melakukan refleksi diri dan untuk melakukan evaluasi.
4.      Teori pertukaran, asumsi teori ini berupa :
a.    Manusia adalah makhluk yang rasionol, dia memperhitungkan untung dan rugi.
b.    Perilaku pertukaran social terjadi apabila perilaku tersebut berorientasi pada tujuan-tujuan yang hanya dapat dicapai melelui interaksi dengan orang lain dan perilaku it harus bertujuan untuk memperoleh sarana bagi pencapaian tujuan tersebut.
c.    Transaksi-transaksi pertukaran terjadi hanya apabila pihak yang terlibat memperoleh keuntungan dari pertukaran itu.
Kegiatan ekonomi terbagi menjadi tiga, yaitu produksi, distribusi, dan konsumsi. Karl Marx, Emile Durkheim, dan Max Weber memandang bahwa produksi merupakan proses yang diorganisasi secara sosial di mana barang dan jasa diciptakan. Dalam kehidupan manusia produksi mengalami perkembangan, mulai dari masyarakat Prakapitalis, masyarakat Kapitalis, dan masyarakat Pascakapitalis. Para ahli ekonomi klasik menjelaskan bahwa Distribusi merupakan alokasi nilai-nilai langka yang dikaitkan dengan pertukaran sosial. Distribusi itu sendiri dapat berupa Resiprositas (hubungan timbal balik antar individu atau kelompok), Redistribusi (gerakan appropriasi kearah pusat kemudian dari pusat didistribusikan kembali), Pertukaran (distribusi yang dilakukan melelui pasar). Dan yang terakhir adalah konsumsi, Menurut Don Slater Konsumsi merupakan proses dimana manusia dan actor social dengan apa yang berhubungan dengan sesuatu yang dapat memuaskan mereka. Maka konsumsi mengacu pada seluruh aktivitas sosial yang orang lakukan sehingga bias dipakai untuk mencirikan dan mengenali mereka di samping apa yang mereka lakukan untuk hidup. Dalam masyarakat prakapitalis, konsumsi ini digunakan sebagai pembeda antarankehidupan profane dan kehidupan suci, sebagai identitas, dan sebagai stratifikasi social.

C.     Keterlekatan, Jaringan, Kepercayaan
Keterlekatan merupakan tindakan ekonomi yang disituasikan secara social dan melekat dalam jaringan social personal yang sedang berlangsung diantara para aktor. Adapun bentuk-bentuk keterlekatan adalah, satu Relasional, mempunyai pengertian seperti yang di atas, dua Struktural, yaitu keterlekatan yang terjadi dalam suatu jaringan hubungan yang lebih luas.
Jaringan sosial merupakan hubungan antar individu yang memiliki makna subyektif yang berhubungan atau dikaitkan dengan sesuatu sebagai simpul dan ikatan. Jaringan mempunyai tingkatan, yaitu : jaringan Mikro (jaringan yang selalu ditemukan dalam kehidupan sehari-hari), jaringan Meso (hubungan yang dibangun para actor dengan dan atau di dalam kelompok sehingga terbentuk suatu ikatan), dan jaringan makro (terbentuk dari ikatan dua kelompok atau lebih).
Kepercayaan, menurut Giddens kepercayaan pada dasarnya terikat, bukan pada risiko , namun pada berbagai kemungkinan. Kepercayaan mempunyai suatu lingkungan, yaitu :
1.      Masyarakat pramodern, terbagi kedalam 4 lingkungan, yaitu hubungan kekerabatan, komunitas masyarakat lokal, kosmologi religious, dan tradisi. Contohnya adalah masyarakat pada suku terasing.
2.      Masyarakat modern, tedapat 3 lingkungan yang dapat menimbulkan kepercayaan, yaitu sistem abstrak, relasi personal, dan orientasi masa depan. Contohnya adalah masyarakat pada masa sekarang ini.

D.    Kapital
Marx memandang kapital sebagai suatu bentuk investasi yang diharapkan meraup keuntungan dalam pasar. Sedangkan capital social merupakan investasi sosial seperti jaringan, kepercayaan, nilai dan norma serta kemampuan menggerakkan dalam stuktur hubungan sosial untuk mencapai tujuan individu ata kelompoksecara efisien dan efektif dengan kapital yang lainnya. Kapital budaya merupakan kepemilikan kompetensi atau pengetahuan kultural yang menuntun selera bernilai budaya dan pola-pola konsumsi tertentu yang dilembagakan dalam bentuk kualifakasi pendidikan. Sedangkan kapital simbolik merupakan suatu bentuk kapital yang terwujud dalam prestise, ststus, otoritas dan kehormatan social yang berasal dari keterampilan mengatur symbol sosial.

E.     Kesimpulan
Sosiologi ekonomi merupakan pendekatan sosiologis yang diterapkan pada fenomena ekonomi. Hal ini terbagi kedalam 3 kegiatan, dimulai dari kegiatan produksi (menciptakan), kegiatan distribusi (menyalurkan), dan kegiatan konsumsi (menggunakan atau menghabiskan). Dalam sosiologi terdapat beberapa kajian, yaitu keterlekatan, jaringan, kepercayaan (trust) maupun kapital.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar